img

Peningkatan Kewaspadaan Dini Terhadap Peningkatan Kasus Difteri di wilayah Jakarta Timur

20 Des 17

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Press Release

Senin, 18 Desember 2017 ada 6 wilayah di Jakarta Timur yang akan mulai melaksanakan Peningkatan Kewaspadaan Dini Difteri sebagai respon cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di wilayah Jakarta Timur, yaitu Cipayung di kelurahan Munjul, Pasar Rebo di kelurahan Pekayon, Ciracas di kelurahan Kelapa Dua Wetan, Cakung di Kelurahan Peggilingan, Pulogadung di kelurahan Cipinang dan Duren Sawit di seluruh kelurahan. Penetapan wilayah pelaksanaan berdasarkan jumlah kasus Difteri yang dilaporkan. Trend kasus Difteri terus meningkat dan menyebar di semua Kota di Provinsi DKI Jakarta, khususnya Jakarta Timur. Tahun 2016 terdapat 10 kasus sedangkan di tahun 2017 sebanyak 22 kasus dilaporkan dengan 1 kematian (CFR 0,04%).

Dalam menyikapi terjadinya peningkatan kasus Difteri, masyarakat dianjurkan untuk memeriksa status imunisasi putra-putrinya untuk mengetahui apakah status imunisasinya sudah lengkap sesuai jadwal. Apabila belum lengkap maka dilengkapi.

Masyarakat juga dihimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang batuk dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat jikaanggota keluarganya ada yang mengalami demam disertai nyeri menelan, terutama jika didapatkan selaput putih keabuan di tenggorokan.

Masyarakat perlu mendukung dan bersikap kooperatif jika tempat tinggalnya diadakan pemberian imunisasi Difteri yang dilaksanakan oleh Petugas Kesehatan di wilayahnya.

Petugas pelaksana imunisasi adalah dari Puskesmas dibantu oleh dokter-dokter Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), tenaga dari Persatuan Perawat Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

Gejala Difteri

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium Diptheriae.

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, 380C, munculnya pseudemembran/selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.

Adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok.

Difteri dapat menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan terutama anak-anak.

Cegah Difteri dengan Imunisasi

Pencegahan utama Difteri adalah dengan imunisasi. Indonesia telah melaksanakan Program imunisasi – termasuk imuniasi Difteri – sejak lebih 5 dasa warsa. Pada saat peningkatan kewaspadaan KLB Difteri, sasaran imunisasi adalah anak usia 1 - <19 tahun, dengan mekanisme pemberian vaksin berdasarkan kelompok umur yaitu :

  1. Anak usia <1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi DPT-Hb-HiB
  2. Anak usia 18 bulan harus mendapatkan imunisasi ulangan DPT-Hb-HiB, Vaksin DPT-HB-Hib untuk anak usia 1 tahun sampai dengan <5 tahun
  3. Vaksin DT untuk anak usia 5 tahun sampai dengan < 7 tahun
  4. TD untuk anak usia 7 tahun sampai dengan <19 tahun

Khusus untuk anak sekolah akan dilakukan imunisasi melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Agustus dan November. Sebaiknya untuk menjaga imunitas tubuh terhadap penyakit Difteri, dilakukan imunisasi Td ulangan setiap 10 tahun termaksul usia dewasa, yang dilakukan secara mandiri.

Keberhasilan pencegahan Difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95%.

Munculnya KLB Difteri di Indonesia, dapat terkait dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan dikalngan penduduk di suatu daerah. Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Penolakan ini menyebabkan randahnya cakupan imunisasi. Sedangkan dalam menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular dibutuhkan cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik.

Sumber : Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur