Kebudayaan

Gambang Kromong

Nama Gambang Kromong diambil dari nama alat musik yaitu gambang dan kromong. Ia juga merupakan paduan yang serasi antara unsur pribumi dan Cina. Unsur Cina tampak pada instrumen seperti tehyan, kongahyan, dan sukong, sementara unsur pribumi berupa kehadiran instrumen seperti gendang, kempul, gong, gong enam, kecrek, dan ningnong.

Marawis

Jenis musik ini pernah digelar dalam Pekan Musik Daerah DKI Jakarta pada tanggal 7 - 8 November 1997 di Gedung Kesenian Jakarta (Suara Karya Minggu, 16 November 1997). Marawis adalah salah satu jenis "band tepok" dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Nama marawis diambil dari alat musik yang dipergunakan kesenian ini. Alat musik tersebut ada tiga jenis, pertama, perkusi rebana/kendangukuran kecil. Kedua, perkusi besar yang disebut hadir dengan kedua kendangnya tertutup. Ketiga adalah papan tepok.

Rebana Hadroh

Pada umum nya ukuran Rebana Hadroh agak lebih besar dari Rebana Ketimpring. Garis tengahnya rata-rata 30cm. Rebana Hadroh terdiri dari tiga jenis. Pertama disebut Bawa, irama pukulannya cepat, dan berfungsi sebagai komando. Kedua disebut Ganjil atau Seling dan berfungsi saling mengisi dengan bawa. Ketiga disebut Gedug yang berfungsi sebagai bass. Karena itu ada pula yang menyebutnya "Rebana Gedug".

Tari Topeng

Tari topeng Betawi biasa dimainkan sebagai pengawal pertunjukan topeng Betawi, meski ia bisa juga main sendirian. Tarian itu adalah tari kembang topeng, tari topeng tunggal atau tari topeng kedok,dan tari ronggeng topeng. Dalam tari kembang topeng penari tidak memakai topeng. Topeng atau kedok baru dipakai pada tari topeng tunggal.Topeng yang dipakai berjumlah tiga buah. Masing-masing berwarna putih, merah, dan hitam. Ketiganya memiliki karakter sendiri, yaitu karakter Subadra, Srikandi, dan Jingga. Pakaian penari topeng Betawia tau "Ronggeng Topeng" terdiri dari "kembang" (hiasan kepala terbuat dari kain perca) berbentuk "tekes", "toka-toka" (dua lembar kain berhias penutup dada dan punggung), "ampok" atau "ampeng" (penutup perut), baju kebaya, kain batik, selendang dan andong.

Pencak Silat

Tari Pencak Silat tergolong baru berkembang belum lama di Betawi. Sebab selama ini para pelaku silat Betawi lebih memntingkan segi "isi" ketimbang "kembangan" silat. Akan tetapi tarian ini berguna untuk membangkitkan gairah anak muda untuk belajar pencak silat. Dengan sendirinya tari pencak silat berisi gerak-gerak silat dengan berbagai aliran atau gaya yang diikuti maing-masing penari. Berbeda dengan tari pencak silat di Pasundan yang diiringi genang, pencak, tari silat Betawi diiringi gambang kromong, rebana biang, dan sebagainya. Ada pula yang menggunakan gendang-gendang pencak seperti kelompok Putra Betawi pimpinan Utama di Kayu Manis dan Mamat di Cireundeu.

Rancag

Kata "rancag" (menurut lidah orang Betawi Pinggiran) atau rancak (menurut lidah orang Betawi Tengah atau Kota) sama artinya dengan pantun. Cerita yang dibawakan dengan dipantunkan disebut cerita rancangan, atau cukup disebut rancag atau rancak saja, berbentuk pantun berkait. Pantun secara keseluruhan melukiskan sebuah kisah yang utuh, seperti tentang Si Angkri Jago Pasar Ikan. Pantun dalam rancag disusun secara improvisasi dengan mengikuti alur cerita yang sudah tetap. Suatu cerita dapat dipanjangkan penghidangannya dengan berbagai tambahan ,misalnya dengan lawakan yang sering kali menyimpang dari cerita (lanturan/digresi). Namun demikian semua ini tetap disenangi penonton. Rancag biasa diiringi dengan orkes gambang kromong, yang biasa disebut Gambang rancag, sebagaimana diuraikan dalam lema "Gambang Rancag".

Sahibul Hikayat

Sahibul Hikayat(artinya: pemilik cerita) adalah jenis sastra lisan yangmasih bertahan di kalangan masyarakat Betawi. Penyampai "Sahibul Hikayat" biasa disebut "tukang cerita" atau "juru hikayat". Juru hikayat yang terkenal antara lain Haji Ja'far, Haji Ma'ruf dan Muhammad Zahid alias "Wak Jait". Saking terkenalnya ahli yang terakhir ini cara menyampaikan hikayat itu sendiri sering pula disebut dengan "ngejait". Pekerjaan sehari-hari Muhammad Zahid adalah tukang pangkas rambut didekat pasar kambing Tanah Abang. Dalam menyampaikan ceritanya Mohammad Zaid selalu mengenakan kain pelekat, berbaju potongan sadariah dan berpecihitam. Pekerjaan ini kemudian diteruskan oleh putranya, Ahmad Sofyan Zahid (meninggal 2007). Dari generasi yang lebih baru bisa disebut Ita Saputra dan Edi Oglek.

Lenong

Lenong merupakan salah satu bentuk teater peran di Betawi yang mulai berkembang di akhir abad ke-19. Sebelumnya masyarakat Betawi mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. Komedi stambul dan teater bangsawan dimainkan oleh bermacam suku bangsa dengan menggunakan bahasa Melayu. Orang Betawi meniru pertunjukan itu. Hasil pertunjukan mereka kemudian disebut lenong.

Ondel-ondel

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan kerangka anyaman bambu, tingginya 2,5m dan garis tengah kurang dari 80cm. Dibuat demikian agar pemikulnya yang berada di dalamnya bisa menggerakkannya dengan leluasa. Rambutnya terbuat dari ijuk atau "duk" kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok dengan mata melotot. Agar lebih menarik di rambutnya diberi hiasan "kembang kelapa".Pakaian ondel-ondel laki-laki biasanya warna gelap. Jenisnya pakaian pangsi. Untuk perempuan dipilihkan warna cerah motif polos atau kembang-kembang. Jenisnya bajukurung. Keduanya mengenakan selendang, biasanya dua-duanya dibawa berpasangan untuk memeriahkan arak-arakan seperti mengarak pengantin sunat atau pesta lainnya,bahkan untuk acara bersih desa.

Batik Betawi

Batik yang disenangi di Betawi adalah cora kpesisiran, seperti Pekalongan, Lasem, Cirebon, dengan warna-warna yang mencolok. Sementara motif-motif batik yang disukai adalah jamblang, babaran kalengan, dan jelamprang. Motifnya antara lain terdiri dari garis segitiga panjang melancip, ujungnya yang melancip disambungkan dengan ujung segitiga panjang lainnya. Jenis batik ini biasa dipakai oleh perempuan yang menghadiri pesta pernikahan atau penari cokek. Jenis batik ini juga disukai perempuan-perempuan Belanda di Batavia.

Pakaian Betawi

Pakaian Betawi banyak ragamnya. Ada pakaian sehari-hari, ada pula pakaian resmi. Belum lagi pakaian pengantin, laki-laki dan perempuan. Pakaian sehari-hari laki-laki Betawi biasanya baju koko atau sadariah, celana batik, kain pelekat dan peci. Akan tetapi di daerah Betawi pinggiran pakaian ini bisa menjadi pakaian pesta. Sementara itu pakaian sehari-hari perempuan Betawi berupa baju kurung berlengan pendek, kadang-kadang bersaku didepannya, kain batik sarung. Ada yang berkerudung, ada yang tidak, terutama orang pinggiran.

Rumah Betawi

Rumah tradisional Betawi diberi ragam hias gigi balang yang diletakkan pada lisplang yang berfungsi memberi keindahan pada rumah. Bentuk lain adalah banji. Banji memiliki pola segi empat. Pola ini terpengaruh kebudayaan Hindu yang artinya dinamis. Pola banji sering dikombinasikan dengan unsur tumbuh-tumbuhan. Yang paling banyak dipilih adalah bunga lima atau bunga tapak dara. Bunga tapak dara dalam tradisi pengobatan Betawi berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Unsur flora lain yang digunakan sebagai ragam hias antara lain cempaka, jambu mede, delima, pucuk rebung, dan lain-lain.Bentuk ragam hias lain adalah matahari, kipas, variasi botol.

Budaya Menikah

Budaya Betawi mengenal cara yang bertingkat-tingkat untuk sampai pada tahap berumah tangga. Tahap-tahap tersebu adalah: Ngedelengin, mencari calon mantu perempuan yang dilakukan oleh Mak Comblang. Ngelamar, pernyataan meminta pihak lelaki kepada pihak perempuan. Bawa Tande Putus, pernyataan atau kesepakatan kapan pernikahan akan dilaksanakan. Ngerudat, rombongan keluarga pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan, seraya membawa serah-serahan seperti roti buaya, pesalin, sie, dll. Akad nikah, ikrar yang diucapkan oleh pengantin laki-laki di hadapan wali pengantin perempuan. Kebesaran, upacara kedua mempelai duduk di puade untuk menerima ucapan selamat dari keluarga dan undangan. Negor, upaya suami merayu istrinya untuk memulai hidup baru sebagai sebuah keluarga. Pulang Tige Ari, upacara resepsi pernikahan yang dilakukan di rumah keluarga pengantin lelaki.

Budaya Lebaran

Lebaran adalah salah satu puncak kegembiraan setelah menjalankan masa bakti dan ketakwaan. Untuk sampai padatahap lebaran masih beberapa tahap lagi yang harus dilalui dengan baik dan benar. Tahap itu adalah mengerjakan ibadah puasa Ramadhan dan membayar zakat fitrah. Orang Betawi mengenal paling sedikit tiga macaml ebaran, yaitu Lebaran Idul Fitri,Lebaran Haji yaitu lebaran bulan Dzulhijjah tanggal 10, 11 dan 12 dan memotong hewan qurban berupa kambing, sapi atau kerbau yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.